PATTERN

Saya adalah orang yang percaya bahwa memahami pola adalah salah satu cara memahami perilaku seseorang.
Karena itu saat saya mempelajari 7 Habits of Highly Effective People, atau saat saya mengajar mengenai Self Leadership, saya tidak bosan-bosan mengatakan bahwa untuk menuju ke individu yang efektif sangatlah penting menemukan cara yang benar dan secara konsisten menjalankannya.
Kunci katanya adalah konsisten.
Contohnya, tiap pagi Anda bangun jam 4 pagi, minum kopi dan langsung berjibaku dengan jalanan saat jarum jam belum menunjukkan pukul 5. Jam 6 pagi, Anda sudah nongkrong di warung sebelah kantor menunggu kantor buka.
Dan itu dilakukan tiap hari (yah.. minimal hari kerja lhooo)
Sehingga orang-orang sekitar Anda yang sangat paham akan kebiasaan ini akan dengan mudah mengajak Anda ketemuan atau meeting jam 7 pagi.
Karena mereka YAKIN, Anda akan MAMPU memenuhinya.
Di lain pihak, saat suatu pagi mereka melongokkan kepala mereka di warung dan tidak menemukan Anda disana, mereka akan langsung menemukan ada yang salah hari ini.
A pattern is broken.
.
Keyakinan yang sama saya bawa saat saya mulai mempelajari perilaku organisasi juga.
Organisasi juga punya pola. Dan dibentuk oleh individu-individu di dalamnya.
Dalam konteks perusahaan, jika kita jeli melihatnya, juga dapat terlihat pola-pola tertentu.
Dimulai dari keyakinan pemilik dan diturunkan dalam perilaku manajemen.
Lalu diserap oleh seluruh karyawan dan menjadi pola unik di perusahaan itu.
Sehingga kita bisa membuat suatu pernyataan bahwa..
“Ow.. perusahaan A emang gitu… kelihatan kok dari cara kerja orang-orangnya..”
.
Yang menarik, dalam konteks organisasi, pola ini semakin sulit dibentuk. Apalagi jika pola yang benar yang dicari. Mekanisme lebih kompleks namun disaat yang bersamaan lebih mudah.
Kita bicara internalisasi tata nilai, sistem kerja, prosedur, sistem pendukung dan lainnya.
Kuncinya sama.
KONSISTENSI.
.
Proses panjang mempelajari pola membuat saya menemukan satu titik kritis terbentuknya pola tersebut.
Saya menyebutnya “invisible forces”.
Simon Sinek menyebutnya “The WHY”.
Orang lain menyebutnya “kondisi yang tak terelakkan”.
Apapun itu ada alasan dalam tiap keputusan yang akhirnya membentuk pola.
.
Anda memilih pagi-pagi sudah nongkrong di warung, karena Anda tidak mau terkena macet.
Perusahaan memilih menggunakan pendekatan PDCA, karena yakin bahwa pendekatan itu akan membuat sistem kerja mereka lebih baik.
Semua memiliki alasan dalam pembentukan pola.
.
Demikian juga saya.
Secangkir kopi pagi hari untuk mendapatkan perenungan yang dalam.
Semangkok indomi karena..
Karena indomi tidak pernah gagal….
.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s