INSTANT GENERATION

Minggu lalu di dalam satu program pelatihan, salah satu kawan seperjuangan, Rum Martani.. melemparkan diskusi kepada peserta training.
Topiknya adalah apakah generasi milenial sekarang adalah generasi instant?
Topik didiskusikan via whatsapp group.
Menarik melihat kondisi paradoks yang terbentuk. Kelas menjadi begitu hening.
Semua kepala menunduk fokus kepada handphone masing-masing. Jari-jari menari dengan cepat. Wajah yang serius kadang-kadang senyum-senyum sendiri.
Di lain sisi, suasana grup whatsapp sangat ramai. Liar bahkan. Komunikasi demikian intens. Bahkan jika kita tidak bisa mengikuti pergerakan chat, kita bisa tertinggal diskusinya.

Yang menarik adalah hampir seluruh peserta yang nota bene anak-anak generasi milenial bangga menjadi generasi instant. Karena menurut mereka sekarang ini sudah tidak ada ruang untuk memperlambat pergerakan. Proses harus lebih cepat. Proses harus lebih pendek. Hasil harus bisa dirasakan dengan cepat. Tanpa mengurangi rasa kualitas.
Mereka heran mengapa menjadi instant dianggap buruk. Buat mereka instant adalah cepat, fleksible dan adaptif.
Mereka bukannya tidak menghargai proses. Mereka merasa banyak hal yg tidak perlu dilakukan karena tidak perlu.

Saya mengikuti keseluruhan disuksi dengan terkaget-kaget. Satu sisi saya sebagai produk generasi X beranggapan bahwa proses adalah segala-galanya. Dan.. anak-anak ini saya selalu anggap sebagai anak-anak instan yang tidak menghargai proses.
Namun ada salah satu pernyataan dari mereka yang membuat saya tercenung.
“Bukankah dalam setiap proses yang ada selalu ada ruang untuk perbaikan? Termasuk didalamnya adalah percepatan proses?”

Wow… serasa ditampar dan muncul icon lampu di atas kepala saya.
Sebagai seseorang yang bergerak di bidang Business Improvement, kata-kata itu seharusnya adalah kata-kata saya.
Keluar dari seorang generasi milenial yang selalu saya anggap tidak menghargai proses adalah suatu pencerahan

Bagi saya saat itu adalah momen magis.
Mengubah total pandangan saya.
Jika kita menganggap mereka adalah generasi instan, kita (saya) adalah generasi paradoks.
Saya hanya menuntut suatu kondisi paradoks. Menghargai proses namun berkualitas.
Cepat tapi bagus.
Result oriented tapi process basis.
Bla bla bla..

Sementara…
Mereka.. anak-anak yang saya sebut generasi instan adalah generasi aksi.
Mereka bukan hanya memikirkan.. mereka melakukan.

Sebagaimana menikmati semangkok indomi rebus di cuaca basah. Tidak butuh pemikiran dalam.
Cukup tambahkan rawit dan 2 potong bakwan.
Suatu kenikmatan dari proses yang instan.

#instantgeneration
#actiongeneration

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s