MAKE ANY SENSE

Beberapa hari ini saya bertemu dan berbincang2 dengan banyak teman. Kami bertukar pikiran. Diskusi. Dari teman yang penting sampai ga penting. Satu hal yang menyangkut di pikiran saya adalah di dalam setiap percakapan, kadang saya setuju dengan pemikiran mereka, kadang saya tidak setuju.
Ketika saya tidak setuju, pertanyaan kepada diri saya adalah, “apakah pemikiran orang ini logis? Masuk akal? Istilah kerennya “make sense”.
Kemudian saya gali lebih dalam.. sebenarnya “make sense” itu menurut siapa?

Saya kemudian teringat diskusi saya dengan teman saya Theo minggu lalu. Masih ingat Theo? Beliau adalah founder perusahaan konsultasi yang bergerak di bidang business improvement dan leadership.
Kami saat itu bicara mengenai seringnya orang terbentur masalah komunikasi dan mentok dalam pengambilan keputusan. Inti dari masalah ini; menurut penelitian Theo (beliau melakukan penelitian ini puluhan tahun) adalah manusia memiliki BIOS yang berbeda. BIOS jika di dalam jargon IT adalah Basic Input Output Sytem. Artinya sistem “otak” yang memproses adanya input dan dihasilkan dalam bentuk output.
Manusia juga punya BIOS. Ini adalah sistem kerja otak manusia yang menjadi dasar pembentukan persepsi. Singkatan dari Bias – Intention – Observation – Self Thought (semoga “S” nya tepat; saya agak lupa).
Persepsi manusia yang tentunya mendasari “human sense” sangat dipengaruhi oleh konteks cara pandang kita terhadap sesuatu yang sudah dibentuk oleh norma dan lingkungan. Inilah Bias.
Cara kita melakukan suatu tindakan juga dipengaruhi oleh apa yang menjadi tujuan kita.
Inilah Intention.
Keyakinan akan suatu informasi dipengaruhi oleh pengalaman dan kemampuan kita mengolah data.
Inilah Observation.
Dan tentunya, bagaimana cara kita melihat diri kita adalah faktor pembeda.
Inilah Self Factor.

Yang menjadi semakin menarik adalah pada saat yang sama saya sedang mempelajari konsep Ladder of Inference (Chris Argyris). Dimana konteks persepsi manusia yang mendukung proses komunikasi dan tindakan sangat dipengaruhi oleh sistem kerja “belief” dari seseorang. Belief ini dipercaya oleh orang tersebut terbentuk oleh data-data yang valid.

Pemahaman akan BIOS atau Ladder of Inference menjadi krusial saat kita ingin “memasukkan” data atau informasi yang kita anggap valid ke dalam sistem berpikir orang lain agar oleh mereka dianggap valid. Disinilah terjadi sinkronisasi.
Komunikasi akan menjadi lebih mudah.

Memahami 2 konsep diatas menjadikan saya memaklumi apa yang terjadi hari-hari ini di Indonesia.
It’s all about BIOS.
It’s all about Ladder of Inference.
Yang menakutkan adalah, proses ini terjadi di otak. Kita tidak pernah bisa mendeteksi sebelum ada kata-kata yang keluar atau tindakan yang dilakukan.
Yang bisa kita lakukan adalah menyediakan lebih banyak data-data untuk membentuk keseimbangan.

Seperti pagi ini.
Hawa dingin karena sisa-sisa hujan.
Nuansa kelabu karena mendung.
BIOS saya mengatakan…
“Ayo Lili… kita cari Indomi kuah pake rawit!”
Make sense!

#BIOS
#ladderofinference

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s