PRODUKTIF

Ada seorang kawan bercerita bahwa dia pernah ditegur oleh atasannya karena tidak suka membaca. Atasannya menceritakan bahwa sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, dia selalu meluangkan waktu membaca. Jadi menggunakan waktu dengan bijak. Tidak sia-sia.
Produktif!
Teman saya meradang mendengar teguran itu. Mengingat dia ke kantor harus naek angkot sementara bosnya bermobil dengan sopir.
Saat saya mendengar cerita itu saya hanya tertawa.

Kemarin siang seorang rekan post komen utk tulisan saya mengenai Manusia Retorika vs Manusia Pembelajar.
Komen cuma satu kata: Produktif!

Sorenya setelah meeting dengan klien, kami ngopi2 dan diskusi mengenai bagaimana kita sebagai HRD menghadapi Man Power Planning. Pada intinya, HRD harus jagain produktivitas karyawan terhadap perusahaan.

Jadi.. apa itu produktif?

Produktif adalah suatu kondisi ketika output yang dihasilkan dari suatu proses lebih besar dari inputnya.

Jika menganut paham ini secara gamblang, mudah untuk menjelaskan segala tindakan kita sebagai produktif.

Cerita teman saya diawal, atasannya adalah pembaca yang produktif. Karena karena dengan menggunakan waktu luang di mobil sambil membaca (proses), hasil yang nyata adalah jumlah buku yang dibaca (output). Yang digunakan adalah waktu (input).
Dengan parameter yang sama, dia menuntut teman saya utk menjadi “produktif”. Kalau dia tidak melakukan hal itu artinya, teman saya “tidak produktif”.
Secara positif saya mengartikan yang dimaksud oleh si atasan mungkin adalah “tidak produktif sebagai pembaca buku”.

Dengan konsep yang sama input-proses-output di atas, artinya kita tidak boleh berpikiran negatif kepada atasan atau anak buah kita yang kalau di kantor (jam kerja) tertidur atau terpergok bengong.
Mungkin mereka itu produktif sebagai “pemimpi”.
Kan katanya suatu perusahaan butuh pemimpi utk bisa memberikan inspirasi. Contohnya Steve Jobs (kalo saya sih lebih suka contohnya John Lennon)
Nah.. untuk bisa produktif, pemimpi harus bermimpi. Untuk bisa bermimpi dia harus tertidur.

Yang bengong2 juga bisa jadi produktif lho… mereka adalah “pemikir”. Kan katanya perusahaan butuh pemikir untuk merancang strategi perusahaan.
Saat mereka “bengong” mereka sedang berpikir.
Jadi mereka bukannya malas, mereka sebenarnya produktif.

Nah.. akan jadi kompleks, ketika alat ukur input dan output adalah berupa uang.
Segala input/output akan di”uang”kan.
Karena segala “bacaan, “mimpi” dan “pikiran” harus bisa dihitung dengan uang.

Artinya sebagai penulis di FB, saya bisa dibilang produktif jika ikut konsep pertama.
Ketika ikut konsep kedua, saya tidak produktif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s