MANUSIA RETORIKA VS MANUSIA PEMBELAJAR

Arti dari retorika adalah kemampuan komunikasi dalam hal persuasi dengan mengandalkan karakter dan argumentasi.
Arti pembelajar adalah kemampuan berubah dalam segala lini dengan mengandalkan karakter dan kompetensi (pengetahuan dan keahlian)
– definisi bebas dari Liliana Hartono

Dalam kehidupan secara pribadi maupun secara organisasi, kita akan bertemu banyak orang yang mengaku sebagai “pembelajar”. Ada yang dibuat lebih ekstrem dengan klaim sebagai “pembelajar cepat”.
Apapun sebutannya, kita bisa melakukan pembuktian atas klaim tersebut.
Apakah benar orang ini sebagai “pembelajar” atau hanya “retorika”.
Memang bukan hal yang mudah.
Karena dua jenis manusia ini sama2 mengandalkan karakter yang kuat dan biasanya disukai oleh orang lain.
Jadi bagaimana?
Pembuktiannya adalah di kata : “BERUBAH”.

Manusia retorika tidak mampu berubah. Karena kemampuannya hanya sampai pada tahapan persuasi dengan argumen yang logis dan teori yang valid.

Beda dengan manusia pembelajar yang memang senantiasa mencari hal baru utk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Walk to Talk istilah kerennya.

Jika anda punya teman yang pandai bicara mengenai bagaimana menjadi orang yang efektif, namun setiap kali bertemu dengan anda selalu telat, maka teman itu adalah manusia retorika.

Jika ada seorang manajer yang pandai bicara mengenai bagaimana mengelola orang, namun anak buahnya tidak pernah merasa disupervisi, maka manajer itu adalah menajer retorika.

Jika ada seorang leader yang pandai bicara mengenai konsep kepemimpinan yang inspiratif, namun tidak menghargai orang lain, maka leader itu adalah leader retorika.

Contoh lebih gampang, lihatlah di FB atau di media sosial yang lain.
Jika anda punya teman yang sering share mengenai motivasi, hidup bersyukur, menghargai orang, mengajak kita dewasa dalam hubungan antar manusia; namun bahkan tidak menyapa anda saat bertemu, temanmu itu adalah teman retorika.

Ada juga para atasan yang sering share mengenai kisah-kisah inspiratif di dunia kerja. Namun sehari-harinya tidak pernah menginspirasi, atasan itu adalah atasan retorika.

Jadi siapa manusia pembelajar?
Orang yang tidak hanya mengatakan, namun melakukan.
Walaupun di dalam proses melakukannya ada harga yang harus dibayar.

Bagaikan indomie yang tidak akan pernah beretorika.
Kita selalu tahu rasa akhirnya walaupun hanya membaui aromanya. Terutama indomie goreng…
Eh.. indomie saya sudah siap ternyata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s