MERDEKA DAN PENJAJAHAN

Pembukaan UUD’45 ayat 1 mengatakan:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kemerdekaan diartikan sebagai kedaulatan suatu negara dalam menentukan langkah2 kenegaraannya dan menjalankan kehidupan bernegara secara mandiri berdasarkan konstitusi negara tersebut. Sehingga jelas disebutkan bahwa langkah-langkah mencampuri ataupun mempengaruhi kedaulatan suatu negara disebut sebagai penjajahan.

Apakah kita sudah merdeka?
Dalam konteks bernegara jawabnya jelas. Ya!
Kita hidup di negara Indonesia yang berdaulat.
Namun ketika kita tarik dalam konteks individu, tidak semudah itu.
Saya baca di koran kemarin, ada beberapa daerah menyebutkan bahwa mereka belum merdeka.
Karena mereka mengkaitkan itu dalam konteks ekonomi dan sosial. Ketika mereka bergantung kepada pihan lain, mereka kehilangan kedaulatan untuk memilih.
Tapi benarkah demikian?

Saya perkenalkan anda dengan Otong.
Otong adalah eksekutif di perusahaan besar.
Tiap hari dia berangkat ke kantor jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 11 malam.
Suatu hari Otong bercerita, dia tidak bahagia.
Dengan gaji lebih dari 50 juta per bulan, rumah yang nyaman, keluarga yang baik (menurut pandangan saya), Otong bilang dia tidak bahagia.
Secara cepat kita sudah menghakimi.
Ini orang tidak bersyukur.
Namun, coba kita tunggu penjelasan Otong.

Otong bercerita dengan nada getir. Terasa getar kemarahan bercampur kesedihan di suaranya.
“Saya bekerja karena harus bekerja. Jika saya tidak bekerja, bagaimana saya memberi makan keluarga saya? Padahal saya sudah muak dengan pekerjaan saya. Bos saya tidak kompeten. Tidak memberikan apresiasi. Anak buah saya semua tolol!!! Akhirnya segala sesuatu saya harus kerjaan sendiri. Yah.. gimana lagi.. siapa yang kerjain kalo saya ga kerjain?”
Otong menghela nafas memberikan jeda dalam ceritanya.
“Tiap pulang rumah, saya sudah sangat lelah. Namun masih saja ada masalah menanti. Istri saya mengeluh ini dan itu. Saya sampai berpikir.. masak kayak gitu aja harus saya yang menyelesaikan. Tapi kalo saya berkomentar, hasilnya pasti saya akan berantem sama istri saya. Ya udah.. saya diam aja. Saya kerjain aja. Walaupun saya ga suka. Daripada ribut.”
Mata Otong menerawang.
“Tangan dan kaki saya kayak terikat. Saya kehilangan kebebasan saya. Saya tidak lagi bisa menikmati berangkat kerja. Saya tidak bisa menikmati makan dengan tenang. HP selalu berdering. Semua orang mencari saya. Dikit2 whatsapp, telpon. Bahkan untuk urusan ga penting. Yah.. habis gimana lagi? Mau ga mau saya harus angkat bukan? Harus dijawab bukan? Kalo ga sekarang, nanti juga harus dikerjain.”
Akhir cerita, Otong berkata lirih
“Saya lelah.”

Otong adalah orang yang terjajah.
Bukan oleh orang lain.
Namun oleh dirinya sendiri.
Oleh pemikirannya.
Oleh perasaannya.

Jadi..
Sudahkah kita merdeka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s