Habit #9 WITHOLDING INFORMATION

Ketika saya membaca mengenai kebiasaan ini, saya teringat salah satu quote:
“As a general rule the most successful man in life is the man who has the best information”.
Begitu “powerful” yang dinamakan informasi ini, sehingga dalam dunia kompetisi bisnis, “mendorong” banyak perusahaan yang bahkan menciptakan unit kerja “business intelligence”. Tugas dari unit ini adalah mengumpulkan informasi sehingga mampu bersaing dalam persaingan.

Sisi yang lain dari kondisi ini adalah konteks informasi sebagai senjata bersaing membuat individu di dalam perusahaan cenderung menyimpan informasi sebagai keuntungan kompetitif.
Jika kita melihat di kehidupan bekerja dalam tim, akibat yang timbul adalah komunikasi yang buruk dan potensi pengambilan keputusan yang salah.
Hal ini  kadang tidak disadari oleh orang-orang dengan informasi berlebih tadi.
Memang secara individu, kita akan lebih unggul karena memiliki informasi lebih, namun secara tim alur komunikasi dan pengambilan keputusan menjadi sangat riskan.
Pilihannya adalah anda sebagai individu terlihat superior namun tim anda menjadi lemah.

Nah.. identifikasi kondisi “menahan” informasi ini tidak sedemikian mudah dilakukan.
Anda akan bertemu dengan kondisi seakan-akan ada informai yang tertahan padahal yang terjadi adalah ketidakmampuan orang untuk berkomunikasi. Bukan karena intensi ingin menahan.

Suatu hari yang cerah ditemukan bahwa ada satu orang karyawan yang sudah keluar 3 bulan lalu ternyata masih menerima gaji.
Setelah ditelusuri, ternyata ditemukan bahwa user saat menerima surat pengunduran diri dari yang bersangkutan “tidak terpikir” untuk memberikan tembusan surat tersebut ke bagian personalia.
Alasan klasik adalah “kelupaan”.
Apakah si user “sengaja” menahan informasi tersebut?
Atau tidak mampu memahami proses kerja yang benar?
Namun…
Apapun alasan dan intensi yang ada, ada informasi yang “tertahan” disana dan akibatnya fatal.

Ada juga alasan mengenai “confidentiality”.
Informasi tidak bisa dibagikan karena “need to know” basis atau “for your eyes only”.

Nah untuk kasus yang kedua, harus lebih bijaksana untuk memastikan siapa yang memang boleh menerima informasi.
Tapi pada intinya, bahkan untuk informasi yang rahasia, informasi itu harus tetap disalurkan. Bedanya adalah siapa yang harus menerima.

Yang harus menjadi pegangan adalah pemahaman mengenai pentingnya informasi dalam pengambilan keputusan.
Myra Kassim mengatakan,
“IN THE ABSENCE OF INFORMATION, WE JUMP TO THE WORST CONCLUSION”

Siapa itu Myra Kassim?
Hmmmm… this information is confidential…

‪#‎informationrule‬
‪#‎witholdinginformation‬

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s