Habit #3 PASSING JUDGEMENT

Kebiasaan ini kalau saya terjemahkan secara bebas adalah “KRITIK”.

Kita adalah “Manusia Kritik”.
Sampai ada pepatah yang menuliskan hal ini.
“SEMUT SEBERANG LAUTAN TAMPAK, GAJAH DI PELUPUK MATA TAK TAMPAK”.

Saat ini anda pasti sedang mengerutkan dahi dan berkomentar (dalam hati ataupun mengucapkannya)..
“Masak sihhhh….????”

Ketika kami diminta untuk melakukan silent assessment (behavior observation) untuk level manajerial di satu perusahaan klien kami, salah satu yang dipesankan oleh top management adalah level manager mereka belum bisa bekerja secara tim.
Di salah satu meeting, dimana kami hadir untuk observasi, mereka membahas mengenai buruknya perencanaan produksi. Sepakat seluruh tim manajer saat itu mengatakan bahwa PPIC belum bisa melakukan fungsinya dengan baik.
Kemudian mereka melempar isu tersebut kepada kami.
Apakah ada komentar atau input mengenai hal ini.
Kami mencoba memfasilitasi.
Kami ajak mereka untuk terbuka dan melemparkan ide perbaikan mengenai hal ini.
Salah satu yang paling menarik adalah ketika seorang anggota tim PPIC bercerita bagaimana mereka kesulitan untuk mengetahui saat ada mesin yang rusak. Salah satu konsultan senior kami memberikan ide untuk membuat mekanisme bendera sehingga jika ada mesin yang rusak, operator mesin tinggal mengibarkan bendera sehingga PPIC bisa dengan cepat mendeteksi.
Ketika mendengar ide tersebut, manajer produksi langsung berkomentar: “wahhh.. ga bisa pak.. itu mah nyusahin kita. Bapak tahu ga… bla bla bla… dan ini masalah PPIC.. bukan masalah produksi..”
Manajer PPIC juga berkomentar: ” ga bisa itu pak.. kita berarti akan menambah biasa utk buat bendera dan anak-anak harus sering lihat-lihat floor..”
Kami disana terdiam sambil saling berpandangan.
Tapi kami menemukan masalah mereka, masalahnya bukan pada kerjasama tim, tapi bagaimana “mereka melihat masalah untuk diselesaikan”, bukannya “mencari masalah untuk tiap ide yang dilemparkan”.

Ada cerita lainnya.
Seberapa sering anda bertanya kepada orang lain, entah itu teman anda atau konsultan anda mengenai diri anda atau perusahaan anda?
Jawabannya pasti sering.

Suatu hari, seorang kawan mengajak saya untuk ngopi dan ngobrol. Di tengah obrolan kami, dia bertanya,
“Li.. menurut lu gua orangnya gimana?”
(Hmmm… tricky question….๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”)
Saya balik bertanya.. mengapa ingin tahu mengenai hal ini?
Trus dia bercerita bagaimana dia dianggap oleh anak buahnya sebagai orang yang sangat keras, dan mulai bercerita bagaimana dia bekerja sangat keras dan mencoba selalu sempurna dalam pekerjaannya.
Sampai kemudian dia terdiam dan menunggu jawabannya saya.
(Hmmm.. udah ga bisa menhindar… ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…)
“Lu itu orangnya perfeksionis dan memaksakan standarmu ke tim lu.. padahal mungkin mereka belum mampu.. jadinya sekarang lu merasa terganggu”
Teman saya memandang saya sesaat sebelum akhirnya berkata..
“Artinya lu ga kenal gua Li…
(Whattt???? Kalo gitu jangan tanya ke gue kaliiiiiii…. ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜๐Ÿ˜)

Pertanyaan saya adalah seberapa sering anda meminta feedback dari orang lain, namun pada akhirnya mengkritik feedback tersebut?
Padahal sebatas kata “thank you..” akan menjadi lebih baik.

โ€ช#โ€Žpassingjudgementโ€ฌ
โ€ช#โ€Žmanofcriticsโ€ฌ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s