Habit #2 ADDING TOO MUCH VALUE

Kebiasaan kedua yang dinilai bisa menghalangi kita menjadi lebih baik; entah menjadi orang tua yang lebih baik atau atasan atau bahkan sekedar teman; adalah “Adding Too Much Value”
Saya terjemahkan secara bebas “Suka Menyempurnakan”

Menurut Marshall, kita sebagai orang dengan kedudukan yang lebih “superior” apakah sebagai orang tua atau atasan, adalah orang dengan kebiasaan ini.
Atau secara umum bisa dikatakan bahwa kebiasaan ini adalah penyakitnya orang dominan.

Contoh sederhana dari kebiasaan ini adalah ketika ibu dan anak sedang memasak di dapur.
Sang anak dengan segala kreativitasnya sedang menjajal membuat menu baru. Dengan semangat dan penuh kebanggaan sang anak menghidangkan menu baru di depan ibunya.
Sang ibu mencicipi.
Rasanya enak.
“Nak… masakanmu enak…”
Kemudian si penyakit “adding too much value” mengambil alih. Sehingga diteruskannya komentarnya..
“Coba.. kamu tambahkan.. bla.. bla.. bla.. dan cara kamu naruhnya.. bla.. bla..bla..”
Memang masakan anaknya menjadi lebih baik.
Namun kebanggaan anaknya berkurang.
Sehingga ketika ayahnya menicicipi masakan itu…
“Wah.. nak… masakanmu enak sekali.. kamu sudah pintar masak..”
Jawab anaknya..
“Ya Ayah.. itu ibu yang menyempurnakan…”
Credit dari masakan jadi ke ibu.
Usaha si anak menjadi kurang nilainya.
Karena pada akhirnya saat kita berusaha “menyempurnakan” pesan yang kita sampaikan adalah “hasilmu belum bagus”.

Seberapa sering kita melakukan hal di atas?
Berusaha memberikan nilai tambah padahal kondisinya tidak memerlukan itu. Karena pada dasarnya keinginan untuk memberikan nilai tambah yang berlebihan karena keinginan untuk terlihat “lebih baik”, “lebih pandai” secara umum.. “lebih superior”.

Namun kebiasaan ini memang sangat sulit untuk diidentifikasi. Karena kita bersembunyi di balik “niat baik” untuk memberikan sesuatu yang lebih.
Tapi benarkah?
Atau mungkin sebaiknya kita cukup bilang..
“Well done!”

Untuk kasus ini belajarlah dari pak Tino Sidin.
Ketika semua gambar yang ditunjukkan ke layar adalah
“BAGUS!”

Jadi.. indomi saya hari ini polos. Tanpa telur.. tanpa rawit.. tanpa gorengan (karena ga punya sihhhh)..
Rasanya nikmat sekali…

‪#‎addingtoomuchvalue‬
‪#‎welldone‬

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s