Habit #1 WINNING TOO MUCH

Hari ini saya akan mulai me-review kebiasaan-kebiasaan yang menghalangi kita menjadi lebih baik. Diambil dari bukunya Marshall Goldsmith – What Got You Here Won’t Get You There.

Pertama adalah “Winning Too Much”.
Atau secara sederhana saya terjemahkan menjadi “Selalu Ingin Menang” atau “Tidak Mau Kalah”.

Di dunia kerja ataupun dunia pendidikan saat ini, kompetisi selalu menjadi parameter untuk melihat suatu keberhasilan.
Contohnya penggunaan “bell curve” dalam proses rating penilaian kinerja, secara nyata menyatakan bahwa prestasi seseorang bukan lagi dilihat dalam hasil absolut tapi juga relatif dibandingkan dengan orang lain.
Artinya, anda dianggap sebagai “performer” bukan hanya karena anda berhasil mencapai target, namun juga karena anda lebih baik dibandingkan rekan-rekan anda.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak di sekolah. Anak-anak dianggap “pandai” bukan hanya karena mereka mampu untuk berhitung dengan cepat atau menghafal dengan baik. Namun karena diantara teman-teman sekelasnya, dia lebih baik.
Inilah dasar mengapa ada kelas akselerasi, di mana semua anak yang dikategorikan “lebih” pandai dikumpulkan menjadi satu dan dikompetisikan disana.

Begitu kentalnya kehidupan kompetisi yang kita masuki, membuat kita bisa menjadi sangat kompetitif. Bahkan kadang kala untuk sesuatu yang tidak perlu.

Suatu hari, kami (saya dan beberapa kawan) ngobrol suatu sore sambil menikmati kopi di satu kafe.
Salah seorang kawan, sebut saja “A”, bercerita bagaimana kerasnya hidup masa kecilnya. Ada masa dimana orang tuanya hanya mampu menyediakan tempe goreng sebagai lauk makan untuk dia dan saudara-saudaranya.
Setelah mendengar cerita itu, kawan saya yang lain, sebut saja “B”, menyambung cerita si “A” dengan ikut menceritakan bahwa waktu dia kecil, bahkan pernah hanya makan nasi putih dengan garam saking tidak mampunya sang orang tua saat itu.
Sambil mendengarkan cerita mereka, saya berpikir..
“Kok ya cerita hidup susah aja saingan yakkkk”
Perenungan saya terhenti ketika si “B” bertanya ke saya.
“Kalo lu gimana Li?”
Saya menjawab.. “biasa-biasa aja..”
Dan kedua kawan saya melihat saya dengan tatapan penuh kemenangan.
Hadeh… kok ya hidup susah saat kecil saja di buat kompetisi.

Coba kita buat simulasi.
Anda dan pasangan anda (atau teman anda, atau saudara anda) sedang memilih mau makan di restoran.
Anda ingin ke restoran A, karena anda sudah pernah makan disana dan menurut anda makanannya sangat enak.
Pasangan anda ingin ke restoran B, yang menurut anda tidak enak. Anda sudah sampaikan itu ke pasangan anda. Namun dengan segala kengototannya.. akhirnya anda mengalah.
Pergilah anda ke restoran B.
Dan benar.
Makanan tidak enak.
Pelayanan buruk.
Pertanyaan: Apa yang akan anda lakukan?
A. Diam saja
B. Memastikan pasangan anda tahu bahwa pilihannya salah dengan mengatakan “Kan gue dah bilang”

Kalo saya, saya akan memilih “B”.
Walaupun kita tahu, saat kita memilih “B”, kita akan melukai pasangan kita.
Dan kita juga tahu bahwa sebenarnya tanpa kita mengatakannya, pasangan kita sudah paham bahwa dia salah. Namun.. we just can’t help it..
Kita harus memastikan dia tahu dengan mengucapkannya.
Karena pada dasarnya kita memang manusia yang “Tidak Mau Kalah”.

Bagaimana dengan Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s