MUDIK – MACET – MAWAS DIRI

Tiga hari ini semua portal berita, entah itu online, televisi, koran, memberitakan mengenai “BREXIT”. BREXIT disini bukan “Britain Exit” namun “Brebes Exit”. Yaitu pintu tol keluar dari jalur Pejagan-Brebes Timur yang dibuka 3 minggu sebelum Lebaran tahun ini.

Headline yang muncul adalah “Horor Brexit”, “Sadisnya Jalur Pejagan Brexit” dan lain sebagainya.
Respon dan komentar pemudik beragam. Ada yang pasrah. Ada yang menyalahkan pemerintah kenapa tidak mengantisipasi, ada yang depresi sampai masuk RS.
Respon pemerintah juga beragam.
Ada yang bilang “kan saya udah bilang.. jangan lwt Brexit pasti macet” (Kadislantas Jateng). Walaupun terbukti bahwa jalur non tol di Pantura juga tidak bergerak.
Ada yang bilang “pembelajaran.. kalau mau buka tol.. harus dipikirkan jalan lepas tol nya siap ga” (Menhub).
Yah.. pak Menhub.. situ juga bukan yang harus mikirin.

Tahun 2011 atau 2010 ya.., saya merasakan mudik lebaran paling “epic”. Kami; saya, adik saya dan kakak sepupu, bertiga jalan dari Cibubur menuju Semarang. Kami berangkat subuh. Kemudian terjebak di Karawang sampai sore hari. Malam hari kami bermalam di mobil di Jomin. Keesokannya kami merambat dan terdampar di tengah sawah di kawasan Ciasem.
Untuk informasi teman2, Jakarta – Ciasem jaraknya kira2 140 km. Dalam kondisi normal, 3 jam sudah sampe ke Ciasem.
Saat itu kami sdh 36 jam di jalan.
Dan segala sesuatunya menjadi sangat kontekstual.
Makan nasi putih pera dan telor goreng berminyak (sebungkus makan bertiga) rasanya nikmat sekali.
Minum teh panas dan cuci muka dengan air segar di warung pinggir jalan rasanya menguatkan.
Sampai akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Jakarta.
Dan kami mampir di sebuah warung makan utk makan sate kambing, buat kami itu makanan terenak sepanjang hidup.

Kami batal mudik.
Mudiknya mundur 1 minggu kemudian.
Naik pesawat.
😂😂😂😂😂😂

Begitu banyak cerita mengenai kemacetan kala mudik. Saya selalu percaya macet di kala mudik seharusnya bisa di prediksi. Khususnya mudik lebaran.
Tahun lalu, kepolisian bilang kecolongan saat macet melanda di libur Natal. Tidak menyangka Natal pun sekarang menjadi ajang mudik.

Segala pengalaman tersebut sebenarnya membuat kita mampu bermawas diri.
Kalau ga mau macet, ya pulang naik pesawat atau kereta api.
Atau pulang lebih awal.
Pulang lebih lambat.
Antisipasi jalanan oleh pemerintah jangan cuma karena pak Presiden mengunjungi.
Segala sesuatu bisa membuat kita mawas diri.
Pertanyaannya, maukah kita?
Karena tetap saja tiap tahun.. ceritanya sama.
Mudik dan Macet.

Atau mungkin kita ini masochist. Memang suka menderita dulu baru mendapatkan kepuasan.
Saya sih tidak.
Anda mungkin.

‪#‎mudik2016‬

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s