DUNIA (TANPA) BATAS

Era tahun 90an, pada saat saya mengikuti kuliah Ekonomi Makro dan Manajemen Strategi, pertama kali saya mendengar mengenai GLOBALISASI.
Dasar pemikirannya adalah pada suatu saat nanti, ekonomi dunia akan melebur dalam pusaran global sehingga transaksi keuangan akan menjadi tanpa batasan negara. Anda bisa mengirimkan uang dari Indonesia ke Amerika real time. Tanpa harus mengirimkan fisik uang ke sana. Kecanggihan teknologi instrumen keuangan saat itu sudahmemungkinkan pengiriman uang secara transfer dengan metode Telegraphic Transfer.
Sekali pencet, saldo anda berkurang di rekening Indonesia dan bertambah di rekening Amerika.

Saat saya bekerja di bank, saya menjadi pelaku transaksi keuangan global. Dengan lebih memahami kompleksitas teknologi dan jalur transaksi antar negara, di dalam 1 hari, saya bisa berada di cabang Jakarta dan cabang Nassau (USA) bersamaan. Karena ternyata yang namanya cabang Nassau hanya berbentuk kubikal dan sebuah terminal komputer sebagai server, tanpa ada orang disana.

3 minggu terakhir ini, saya merasakan dunia masih berbatas.
Kembali dari 18 jam perjalanan Roma-Jakarta, saya terlarut dalam pusaran kemacetan protokol kota.
2 hari kemudian saya dilenakan oleh 45 menit perjalanan Halim-Semarang dan ritme kota Semarang yang lambat.
Kembali ke Jakarta lagi dan berjuang dalam kemacetan sebelum terpenjara di kursi 8C pesawat selama 2 jam menuju Medan.
4 hari yang melelahkan di Medan dan hanya 1 hari jeda di rumah sebelum kembali terbang ke Semarang.

Saya lelah.

Teknologi masih terbatas pada kecepatan transportasi. Teknologi masih terbatas pada visual dan audio.
Tapi bukan fisik.

Internet disebut sebagai teknologi yang membuat dunia tanpa batas.
Namun segala sesuatunya masih virtual.
Anda bisa berkeliling Eropa dengan teknologi digital. Virtual Travelling.
Anda menikmati keindahan Eropa dengan mata anda. Merasakan kemeriahan dan keramahan masyarakat dengan telinga anda.
Tapi sebatas itu.
Anda tidak bisa merasakan dengan jari anda. Dengan tarikan nafas anda. Dengan lidah anda.

Jika anda ingin berada secara fisik, anda masih harus berjuang mendapatkan visa, terjebak selama 18 jam di pesawat yang pada akhirnya membawa anda di antrian imigrasi negara tersebut.

Jadi.. bagaimana sebenarnya mengartikan dunia tanpa batas?
Batas apakah yang sebenarnya dibuang?

Menurut saya.. batasan imajinasi.
Dunia tanpa batas adalah dunia yang memungkinkan kita untuk bergerak bebas di dalam imajinasi kita yang didorong oleh kenikmatan visual dan audio.

Sayangnya…
Untuk menikmati indomi kuah dengan rawit plus gorengan, saya butuh lebih dari imajinasi. Saya butuh fisik.
Ternyata dunia saya masih dunia berbatas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s