PEMBENTUR KEPENTINGAN

Minggu lalu saat mengajar Train To Trainer, saya membahas mengenai salah satu ciri perilaku Integritas. Yaitu tidak membenturkan kepentingan. Ini juga salah satu perilaku pembeda antara Winner vs Loser yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu.

Kejadian yang menarik adalah ketika salah satu peserta di hari ke 2 pada saat latihan fasilitasi ternyata harus meninggalkan kelas lebih cepat karena jadwal penerbangannya lebih awal dibandingkan rekan-rekannya.
Ketika kami tanyakan pukul berapa tepatnya, peserta tersebut hanya bilang “pokoknya jam makan siang saya harus jalan ke bandara”.
Kami berusaha mencari solusi karena peserta harus 2x latihan untuk mendapatkan penilaian.
Jadi kami coba untuk atur waktu lagi.

Pada hari H, latihan sesi 1 berakhir pukul 12.15. Saya menawarkan pada peserta itu apakah mau lanjut sebentar untuk khusus latihan buatnya sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh nilai.
Jawabannya:
“Jika memang harus latihan 1x lagi ga papa tapi kalo saya ketinggalan pesawat ibu yang bertanggung jawab ya? Ikut nanggung biaya tiket hangus”.

Saat saya mendengar jawaban ini, saya tahu saya bertemu dengan “PEMBENTUR KEPENTINGAN”.
Saya jawab,
“Pak, ini semua bukan untuk saya, ini untuk kepentingan bapak sendiri. Jika bapak tidak mau repot-repot untuk mencari solusi, silahkan bapak jalan ke bandara. Tidak perlu menantang-nantang begitu.”

Kemudian saya melihat ke arah panitia penyelenggara untuk mengembalikan penyelesaian masalah ini ke mereka.

Pembentur Kepentingan ada dimana-mana. Ciri terkuat mereka adalah mereka biasanya menghindar mengambil tanggung jawab dengan cara “membenturkan alternatif solusi dengan masalah lainnya”.

“Ya terserah ya pak… kalau bapak mau ambil kebijakan itu. Nanti kalo anak-anak demo silahkan urusin sendiri”

Ciri yang lain adalah “lebay”

Ketika ada anak buah yang harus ditegur lisan karena terlambat.
“Mendingan bapak yang negur deh.. nanti kalo anaknya ga terima terus stress dan akhirnya bunuh diri, saya ga sanggup menanggungnya”

Ciri lainnya juga “tidak mau melakukan lebih”

Ketika harus lembur.
“Pokoknya kalo nanti saya sakit gara-gara saya lembur ini semua salah manajemen!”

Buat saya, para Pembentur Kepentingan ini harus dihindari. Karena mereka membuat anda letih, lelah, kesal secara beruntun dan membatasi gerak anda untuk maju dan menjadi lebih baik.
Pembentur Kepentingan ini ibarat Truk Container di jalan tol. Maunya ada di lajur kanan, ga mau diselip, tapi jalannya pelan. Ga mau geser tapi menghalangi karena geraknya lamban. Suaranya aja kenceng tapi ga bisa lari.

Mendingan menjadi pembentur KENIKMATAN. Ketika semangkuk indomie kuah gurih kita benturkan dengan secangkir kopi (agak) manis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s