DELEGASI

Salah satu teknik kepemimpinan yang penuh dengan perdebatan adalah kemampuan delegasi. Walaupun secara arti seakan-akan jelas namun penerapan di dalam kehidupan berorganisasi menjadi sangat abstrak dan kompleks.
Banyak pemimpin di perusahaan merasa kesulitan ketika diminta mendelegasikan pekerjaan ke orang lain. Alasannya beragam. Unsur pekerjaan itu sendiri dengan pembenaran bahwa pekerjaannya sangat penting sehingga harus dikerjakan sendiri. Atau dari orang yang akan menerima delegasi dengan penekanan bahwa orangnya masih belum mampu (secara tidak langsung dikatakan “belum cukup dipercaya”)
Sebenarnya apakah delegasi itu?
Mengapa sebegitu pentingnya sehingga banyak perusahaan ketika meminta pelatihan kepemimpinan sering meminta ditekankan mengenai delegasi.
Apakah hanya membagi2 pekerjaan?
Kalau hanya itu, tentu sangat mudah.
Kita tinggal belajar dari orang tua kita.
Ketika kita masih kecil, dan kebetulan orang tua kita tidak memiliki pembantu, sering kita di”beban”kan pekerjaan2 rumah oleh ibu kita.
Si A ngepel, si B cuci piring, si C setrika, dsb.
Nah..
Jika delegasi hanya membagi tugas, kan mudah.
Tinggal bilang aja ke team kita.
Si A kerjakan tugas ini. Si B kerjakan tugas itu.
Selesai.
Namun sayangnya tidak semudah itu.
Karena salah satu pembeda antara bagi tugas dan delegasi adalah memberikan wewenang kepada si pengemban tugas.
Ketika kita diminta untuk ngepel oleh ibu kita, kita sudah disediakan obat pelnya, alat pelnya. Saat ngepel pun, ibu kita akan jadi “mandor”. Dengan segala komentar, “kurang bersih”, “mulainya dari depan ke belakang” dll.
Yang diserahkan kepada kita adalah “pekerjaan”.
Jika ini proses delegasi, seharusnya saya akan dipanggil oleh ibu saya.
“Kamu akan saya kasih tugas ngepel rumah. Ini duitnya. Kamu boleh pilih obat pel nya, alat pelnya, terserah cara kamu ngepel, tapi hasilnya adalah: bersih dan kinclong”.
Artinya, di dalam satu keputusan delegasi akan mengandung 3 unsur yaitu tugas yang diberikan, wewenang yang menyertainya, ukuran keberhasilan (alat monitoring).
Saya akan memberikan satu contoh proses delegasi yang menurut saya efektif.
Anda pernah dengar warkop Hendra?
Warkop ini terletak di area wisma Bakrie 1.
Kami para alumnus Bakrie Telecom pasti sangat kenal dengan Hendra.
Sebenarnya nama warungnya sendiri adalah Warung Family atau sering disebut juga warung Mina.
Suatu pagi, saya pernah berkesempatan ngobrol dengan Hendra. Saya sempat bertanya kenapa kalau siang hari dia jarang terlihat.
Dia bercerita.
Ayahnya dulu pemilik warkop indomi di daerah Jakarta Timur. Kemudian semakin maju dan memiliki 3 warkop. Salah satunya diberikan kepada Hendra untuk dikelola.
Tempatnya di RS Mata Aini.
Nah.. ketika warkop itu mulai maju, Hendra melebarkan sayap untuk membuka warkop di area seputaran wisma bakrie.
Yang dia lakukan adalah meminta adiknya untuk menjaga warkop di Aini. Karena sudah jalan dan menurut dia bisa ditinggal. Sementara dia fokus di warkop baru.
Ternyata setelah berjalan beberapa waktu, warkop Aini terbengkalai.
Akhirnya Hendra mengambil keputusan, dia menyerahkan warkop baru ke adiknya yang lain. Yang dia lakukan adalah tiap pagi dia berbelanja keperluan warkop. Kemudian dia drop ke masing-masing warkop miliknya. Dia memberikan kebebasan buat adiknya untuk mengelola warkop. Yang penting tiap hari setoran dengan nominal tertentu.
Tiap 2 jam, dia akan memutar untuk melakukan kontrol terhadap 2 warkop tersebut.
Terakhir sebelum saya keluar dari Bakrie, saya dengar dia sudah buka warkop ke 3.
Jadi jika anda ingin belajar delegasi, belajarlah dari Hendra. Karena anda tidak hanya mendapatkan ilmu tapi juga semangkok indomi rawit plus gorengan yang endezzzzz… tapi jangan lupa bayar!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s