MEMBENTURKAN (Renungan Hari Kartini yang terlambat)

Salah satu ciri2 perilaku pemenang (winner) adalah mencari solusi. Sementara si gagal (loser) suka sekali membenturkan kondisi yang sering kali bersifat asumtif.
Contoh klasik jika di perusahaan adalah:
“kita harus menaikkan gaji orang itu, kalo ga dia akan resign”.

Bahkan ada yang lebih extreme pembenturannya.
“Jika kita memecat orang itu, bagaimana tanggung jawab kita terhadap hati nurani. Memang sihhhh.. orangnya melanggar value integrity… tapi kan kita juga punya value pemaaf..”

Pening kan…

Proses pembenturan ini menjadi lebih luas cakupan kondisi dan taman bermainnya. Kadang saya pikir ini bukan lagi sekedar “loser” tapi “envy”.

Kemarin, kita merayakan hari Kartini. Kartini dipandang sebagai sosok perubahan wanita (emansipasi) kala itu. Karena berani menabrak tembok kebiasaan Jawa yang notabene menomorduakan perempuan.
Muncul lhoooo komentar atau status…
“Kartini itu ternyata istri ketiga.. jadi contoh poligami juga dong”
“Di daerah A ternyata ada juga wanita yang lebih jago dari Kartini.. sudah melakukan bla bla bla.. tapi ga terakui oleh pemerintah”

Loser-Envy cenderung mencari sesuatu yang negatif dengan anggapan memberikan informasi yang seimbang. Namun yang terjadi adalah pemahaman yang sempit dan sering kali menerjang konteks.

Contoh Kartini adalah salah satunya.
Ketika mereka berusaha menonjolkan keberadaan Kartini yang mau dipoligami dianggap sebagai bukti ketidakberdayaan Kartini. Sehingga status “ibu emansipasi” tidak layak untuk diberikan. Harapan mereka adalah saat itu jika memang Kartini itu top markotop.. harusnya dia minta ceraiiiii…
Yang mereka abaikan adalah kondisi budaya dalam cakupan sosial antropologi saat itu, tidak memberikan peluang untuk Kartini bertindak seperti wanita-wanita modern saat ini.

Para penganut paham loser-envy juga tidak akan paham apa yang saya tulis sekarang ini. Bahkan dengan makan bermangkok-mangkok indomie pun mereka akan gagal paham.
Karena dasar argumen mereka bukan untuk mencari solusi menuju perbaikan yang lebih baik. Mereka cuma suka mengkritik saja.

Apakah pemberian penghargaan Kartini sebagai Ibu Emansipasi terlalu berlebihan?
Jika kita membandingkan dengan pahlawan2 wanita yang lebih hebat2 seperti Cut Nya Dien, Christina Marta Tiahahu, dll.. mungkin seakan2 apa yang dilakukan oleh Kartini menjadi undervalue. Wong Kartini tidak pernah ikut perang je… ga pernah mimpin tentara thoo..
Namun jika kita melihat dari pemahaman bahwa dengan ketidakmampuan Kartini untuk berperan seperti para pahlawan wanita lainnya dan di saat yang sama membuat perubahan, saya rasa sudah sepantasnya penghargaan itu diberikan.

Ujungnya sebenarnya bukan siapa lebih baik dari siapa. Namun melihat esensi dan konteks sebuah perjuangan dan kita memberikan penghargaan atasnya. Apakah itu Kartini, apakah itu Cut Nya Dien, apakah itu Bu Susi, Yu Pini, Mbah Sastro…lihatlah apa yang mereka lakukan. Hargailah. Bukan dibenturkan antar mereka.

Akhir kata..
Mengapa harus Kartini?
Mengapa tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s