KEMAMPUAN MEMILIH

“when we surrender our ability to choose, something or someone else will step in to choose for us”

Saya sedang membaca buku Essentialism karya Greg McKeown. Belum selesai. Masih di bab 3. Alasan saya tidak langsung menyelesaikan buku ini, karena tiap bab pembahasan di buku ini sangat menarik dan saya tertantang untuk langsung menerapkan atau setidaknya melakukan pembuktian atas hipotesanya.

Salah satu pembahasannya adalah Choose : The Invincible Power of Choice.
McKeown mengupas suatu perilaku yang buat kita agak sulit untuk diterima dan diakui. Yaitu kita kadang kehilangan kuasa untuk memilih karena begitu berkuasanya pilihan-pilihan yang ada sehingga akhirnya pilihan itu yang mengatur diri kita. Bukan keputusan kita.
Karena itu sering kita dengar dan ungkapan kata-kata:
‘Saya tidak bisa…’
‘Saya harus…’
‘Mau tidak mau…’
Pada saat kita mengatakan itu, kita sedang menyerahkan keputusan memilih ke orang lain.
Istilah McKeown:
“when we surrender our ability to choose, something or someone else will step in to choose for us”

Menarik.
Minggu lalu seorang teman bercerita.
“Saya punya masalah. Saya tidak suka pekerjaan saya. Saya tidak happy”.
Saya bertanya.. kenapa masih di sini?
“Saya ada tanggung jawab keluarga. Mau tidak mau saya harus bekerja”
Saya tanyakan lagi… cari aja kerja yang lain..
“Tidak mudah mbak.. umur saya sudah 32 tahun.. saya tidak bisa cari kerja karena tanpa pengalaman.. jadilah saya selalu part time”
Saya komen.. kata siapa umur 32 susah dapat kerja?
“Semua orang bilang begitu.. saya percaya..”
He surrender his ability to choose.

Saya pernah pesan indomi kuah di sebuah warung. Ketika ditanya abangnya mau rasa apa. Saya bilang terserah. Ketika muncul.. saya dapatnya indomi rasa soto. Karena tidak suka, saya komplain. Abangnya bilang.. lha.. tadi mbaknya bilang terserah.. karena indomi soto saya masih banyak dan kurang laku.. saya masakinnya itu..
When i surrender my ability to choose “Abang Indomie” step in and choose it for me.
Hasilnya.. saya harus makan indomi yang mungkin sudah mau ED karena tidak laku.

Pernahkah anda merasa tidak punya pilihan?
Pernahkah anda berada pada posisi yang “mau tidak mau”?
Pernahkah anda merasa kehilangan kemampuan untuk memilih?
Jika ya.. anda tidak sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s