(SUPER) HERO COMPLEX

Ben Parker menjelang kematiannya mengingatkan kembali ke keponakan tersayangnya Peter Parker.
“Great power come with great responsibility”
Di installment ke 3 Spiderman, Peter Parker gagal menunjukkan itu dan diambil alih oleh Venom.

Di film Avengers installment ke 2, Tony Starks juga gagal menunjukan esensi ini. Dicerminkan dengan keputusan menciptakan “the most unbeatable super hero” dan menjadi bumerang. Komentar Captain Amerika yang sangat valid adalah, “our power come with consequences”

Kita menggemari cerita tentang pahlawan. Apalagi super hero. Superman, Batman, Spiderman dan.. man man lainnya.
Dasar hati kita, kita ingin seperti mereka. Ada rasa kepuasan tertentu jika kita dibutuhkan dan diakui dengan keberhasilan kita.

Carl Jung menyebutkan bahwa keinginan akan pengakuan ini menjadi penyimpangan jika kita mulai menciptakan outlet untuk mendapatkan kepuasan tersebut. Jung menyebutnya Hero Complex. Para Arson (suka membakar) yang notabene berlatar belakang Pemadam Kebakaran adalah contoh nyata dari penyimpangan ini.

Di dalam hidup berorganisasi kita sering bertemu orang (aka pemimpin) yang memiliki kecenderungan mendapatkan kepuasan dari menjadi pahlawan. Walaupun mungkin tidak separah penyimpangan yang disebutkan oleh Jung, namun pada batasan tertentu kita bisa dengan cepat melihat ciri-cirinya. Para pemimpin ini akan dengan mudah mengambil alih semua masalah yang terjadi. Dan memaksa anggota teamnya (dengan bahasa manajemen “extra mile”) untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul walaupun sebenarnya bukan merupakan pekerjaan utama. Ungkapan yang sering dikeluarkan adalah, “kalau tunggu mereka, ga akan pernah dikerjakan. Mendingan kita yang mengerjakan“.

Dalam periode jangka pendek, kita akan bertemu over achivement leader. Perusahaan happy. Nama leader itu menjadi harum (kayak Ibu Kartini). Namun dalam jangka waktu panjang, ada konsekuensi yang harus dibayar. Heroic Leader sangat sulit dipuaskan. Kepuasannya adalah jika ada masalah dan kondisi chaos. Semakin chaos semakin terangsang untuk menunjukan kepahlawanan. Efek sampingnya adalah team yang kelelahan. Team yang merasa tidak pernah bisa memuaskan. Efek yang lebih berbahaya adalah pemimpin ini akan memantain kondisi chaos. Organisasi perusahaan tidak akan pernah stabil.

Heroic Leader bukan Transformational Leader. Heroic Leader tidak percaya terjadinya improvement secara organik (Anti Deming Model). Tidak ada yang namanya Kaizen. Yang ada adalah krisis dan revolusi. Mereka adalah Chaos/Crisis Addict.

Sementara Transformational Leader adalah orang yang percaya pada proses perubahan yang menyeluruh. Bahwa improvement bukan didorong oleh terjadinya masalah, namun karena standar kualitas yang meningkat.

Saya suka film Superman vs Batman. Bukan karena heroism-nya. Tapi karena Superman bisa mati. Karena saat Superman terbang mengadu nasib dengan monster itu, dia tahu konsekuensinya adalah kematian. Di film itu saya tidak suka Batman. Karena Batman yang saya kenal tidak manja dan tentunya tidak mudah tersinggung hanya karena ada pahlawan lain di sekitarnya.

Tapi yang terutama.. saya suka Super(Indo)mi. Karena Super(Indo)mi tak pernah mengecewakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s