PENGGEMAR DRAMA

Salah satu aturan utama sebagai seorang Coach dan Konsultan adalah tidak terjebak di dalam drama klien. Sehingga ketika kita mulai mendengarkan masalah dari klien, kita harus jeli untuk memilah mana yang benar2 masalah, mana yang drama.

Ternyataaaaa…. ga mudah lhooo…
Karena sebenarnya manusia menyukai drama. Oleh karena itu kenapa kita suka nonton K-Drama, Soap Opera dan bahkan sinetron. Semakin banyak intrik dan masalah, semakin menarik. Suami dan bapak yang baik, ternyata saat muda punya selingkuhan. Disaat sudah menjadi orang kaya.. anak hasil selingkuhan muncul… jengg jeng…. seruuu…
Kesukaan manusia akan drama juga menjadi keniscayaan.

Drama membuat hidup berwarna. Kehidupan kita adalah potongan-potongan cerita yang tersusun menjadi lembaran kehidupan. Drama diperlukan untuk menjadikan cerita hidup kita jadi lebih menarik. Drama memberikan alasan untuk kita untuk mengasihani diri, memuji diri dan tentunya bersyukur ketika membandingkan drama kita dengan drama orang lain.
Drama ini menjadi bagian yang penting dalam hidup kita sehingga bahkan ada orang yang jika tidak menemukan drama, akan merasa kosong.
Saya menyebutnya Pecandu Drama (drama addict). Ini lebih atas levelnya dari Drama Queen.
Jika drama queen adalah orang yang suka mendramatisir, Drama Addict adalah orang yang mencari drama. Entah itu dramanya sendiri atau orang lain.

Semakin banyak drama yang ditemui, semakin berasa hidup.

Kesukaan manusia akan drama sekarang ini difasilitasi oleh media sosial. Anda buka FB, anda melihat dan membaca drama. Anda buka Instagram, drama. Bahkan sekarang jurnalispun paham, judul artikel harus dramatis, jika mereka mau artikelnya dilirik.
Contoh terdekat adalah pilkada DKI. Penuh drama. Dari keputusan independen, bentroknya relawan Ahok, Mickey pergi ke pasar dan sekarang reklamasi.
Drama.. drama.. drama…
Yang menakutkan adalah.. drama menutupi kejadian sebenarnya. Kita jadi tidak tahu mana yang fakta mana yang cerita. Kita dikaburkan oleh opini dan perasaan. Kita masuk di dalam cerita. Sehingga objektivitas penonton menjadi hilang.

Beranjak dari pengalaman, saya sudah mulai bisa mendeteksi mana yang drama mana yang bukan. Siapa yang drama queen, siapa yang drama addict. Tapi saya masih belum sepenuhnya bisa keluar dari drama.
Karena di dasar hati.. saya suka drama.

Epilog
Mas.. indomi rawit pake telor dong…
Mbak.. indominya habis.. lagi tunggu kiriman
Apaa????!!! Warung apaan inihhh… saya bisa mati kalo ga makan indomi.. mas tahu gaaaa?? Ya udah.. mending saya pindah!!!
“..hmmm… tapi mbak….
APAA???!!!
Kopinya bayar dulu…..
@#$@&!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s