MAKAN (MINUM) PUN TERNYATA KONTEKSTUAL

Sebagai trainer komunikasi kita terbiasa mengajarkan bahwa pesan yang akan disampaikan terbagi menjadi 2. Isi (content) dan konteks (context: interrelated situation). Isi tanpa konteks akan kehilangan makna.

Lebih jauh dari itu, kita adalah manusia kontekstual. Apa yang kita lakukan juga ternyata dipengaruhi situasi yang ada.

Saya termasuk orang yang porsi makannya kecil. Tapi kalo sudah berhadapan dengan pete goreng, sambel trasi dan sayur asem.. beeeuhhh… nasi panas sepiring pasti kurang.
Beberapa teman penggemar masakan padang sering bercerita bahwa ada sesuatu di restoran padang yang mendorong mereka untuk makan lebih banyak.

Makan memang sangat kontekstual.

Minum kopi juga sama. Sebagai orang yang sangat menyukai kopi, saya tidak didukung oleh lambung yang cukup kuat menerima kucuran kopi. 1 cangkir kopi cukuplah buat saya. Daripada nanti asam lambung naik. Namun waktu di Vietnam, saya bisa tiap saat minum kopi tanpa takut sakit lambung. Mungkin karena suasana disana. Mungkin karena disediainnya kopi terus.

Minum kopi juga kontekstual.

Ini alasan terbesar kenapa saya lebih suka makan indomi di warung indomi daripada masak sendiri. Berasa lebih enak. Lebih gurih. Mungkin karena suasana. Atau mungkin karena air yang buat rebus ga pernah diganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s