BROKEN WINDOWS THEORY (THE CASE OF IGNORANCE SOCIETY)

jika ada satu barang rusak dan dibiarkan tidak diperbaiki, maka orang lain akan berpikir tidak masalah jika ada barang lain yang rusak” – James Q Wilson dan George Kelling

Di dalam bukunya Tipping Point, Malcolm Galdwel menyadur teori jendela pecah saat menceritakan mengenai Power of Context.
Sedikit terlalu memaksakan dan menyederhanakan situasi ketika Galdwel berusaha mengelaborasi teori itu dengan konsep yang dia miliki.
Namun hari ini saya tidak akan bahas itu. Saya ingin membahas mengenai teori jendela pecah.

Broken windows theory adalah kreasi dari kriminolog James Q Wilson dan George Kelling.
Idenya adalah “jika ada satu barang rusak dan dibiarkan tidak diperbaiki, maka orang lain akan berpikir tidak masalah jika ada barang lain yang rusak“.

Teori ini sangat powerful digunakan oleh Rudy Giuliani pada saat beliau menjabat sebagai walikota New York. Rudy percaya bahwa kriminalitas di dorong bukan hanya karena orang memiliki niat jahat namun oleh lingkungan yang mempengaruhi niat jahat tersebut bisa berkembang menjadi tindakan jahat.
Yang menarik adalah, Rudy berusaha untuk menghilangkan pengaruh lingkungan di dalam proses perubahan niat menjadi tindakan, tanpa memberikan ruang alasan bahwa tindakan jahat seseorang dibenarkan hanya karena ada dorongan dari lingkungan.

Saya ingat suatu hari saya pernah berdebat dengan seorang sales manager yang membela anak buahnya karena didapati menyalahgunakan uang petty cash. Alasannya adalah fraud yang dilakukan adalah perbuatan yang dia tidak tahu bahwa itu fraud. Karena selama ini tidak pernah ada teguran. Kemudian sampai pada komentar bahwa kesalahan ada pada perusahaan karena memberikan petty cash terlalu besar sehingga anaknya tergoda.
Saya cuma bilang, godaan tanpa niat tidak akan menjadi tindakan.

Tapi kejadian tersebut membuat saya berpikir. Saat saya menjawab, saya harus menjawab seperti itu karena orang itu salah. Mau apapun alasannya, dia mencuri uang perusahaan. Namun di sisi lain, saya berpikir, jika selama ini ada sistem kontrol petty cash yang baik, hal itu mungkin tidak terjadi. Fraud ini bisa terjadi karena ada unsur pembiaran dari perusahaan. System Ignorance.

Kita adalah manusia dengan nilai toleransi paling tinggi. Khususnya orang Jawa yang sangat ga enakan hati jika harus menegur. Ada orang yang jelas-jelas berbuat salah aja, kadang kita ga enak buat mengingatkan. Kondisi ini digabung dengan potret manusia milenial yang cenderung individualis.

Akhirnya yang sering kita temui adalah Social Ignorance.

Suatu hari saya ada di halte lagi tunggu jemputan. Halte itu bersih. Seorang bapak merokok dan mulai membuang puntung di situ. Saya diam aja. 2 orang lain yang ada di situ juga diam. Orang baru datang dan melihat serakan puntung dan membuang bungkus roti di sana. Tidak sampai 15 menit sepanjang waktu tunggu saya, halte bersih menjadi kotor dengan rokok, plastik, daun bungkus lemper.

Saya sedih.
Bukan karena haltenya jadi kotor.
Tapi karena saya bagian dari Ignorance Society.

Apakah anda juga?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s