MANUSIA LABEL

Minggu lalu seorang rekan menelpon saya untuk menawarkan sebuah proyek potensial. Syaratnya adalah harus punya sertifikasi khusus. Saya tidak punya sertifikasi itu. Di akhir pembicaraan, kami sampai pada kesimpulan betapa lebih pentingnya sebuah sertifikasi dibandingkan pengalaman yang sudah teruji.

Kita adalah manusia label. Sangat menyukai label.
Mungkin hal ini yang menyebabkan barang-barang berlabel luar negeri (mewah) memiliki tempat khusus di arena retail kita.
Ketika kita melihat lebih dalam lagi, kesukaan kita akan label sebenarnya adalah efek samping dari ketidakmampuan kita utk melakukan penilaian dengan akurat.

Ini sebenarnya alasan mengapa utk bisa diterima kerja di posisi tertentu, syarat akademik lulusan universitas (S1 atau S2) menjadi penting. Karena rekruter menganggap bahwa dengan mengikuti pendidikan tinggi dan lulus universitas secara pola pikir akan lebih baik dibandingkan dengan lulusan SMA. Apalagi jika yang meluluskan adalah universitas ternama. Rekruter menyerahkan tanggung jawab penilaian ini kepada pihak yang dianggap lebih kompeten. Universitas.

Fenomena sertifikasi belakangan ini (tanpa berusaha bersikap sinis kepada unsur bisnis dan politis) mengamini hal tersebut.
Salah satu alasan awal saya mengambil sertifikasi coaching dari ICF adalah semata-mata untuk mendapatkan label. Buat saya saat itu, yang notabene sudah melakukan puluhan bahkan ratusan kali proses coaching tidak menganggap perlu teknik coaching tertentu. Kita bisa browsing di internet, baca buku, tapi yang penting latihan. Namun karena klien sangat mementingkan label “certified coach”, saya memilih untuk masuk dalam kompetisi dengan lebih siap. Walaupun pada akhirnya saya mengakui teknik coaching saya menjadi lebih baik, buat saya bonus karena sudah terlanjur bayar mahal.

Alkisah ada seorang bersertifikasi DISC. Selepas program sertifikasi, setiap kali bertemu dengan orang, dia langsung akan melakukan penilaian singkat. Si A orang D. Si B orang IS.
Suatu sore, saya bertemu untuk ngobrol sore sambil ngopi di warung kopi mahal berwarna hijau.
Dengan bersemangat dia mulai melakukan penilaian terhadap saya.
“Li.. lu pasti orang D. Trus karena lu hobinya ngepel, lu pasti C”.
(Yang ini semua orang yang kenal saya pasti baca sambil ngangguk-ngangguk.. udah deh.. ketawa aja.. ga usah ditahan…)
Saya jawab.. “iye bener.. trus gua harus gimana?”
Dia terdiam sejenak.. “yah.. lu kan tahu kalo lu DC.. nah.. gitu dehhh.. jangan terlalu dominan..”
Saya terdiam sambil menyesap kopi.
Saya tanya lagi..
“Gimana caranya?”
“Nah.. gini nih.. lu udah mulai muncul C nya.. pake analisis?”
Akhirnya karena semakin bingung tidak dapat jawaban, saya pesan bagel keju buat penenang.

Apakah sertifikasi menjadi tidak penting? Atau bahkan menjadi sangat penting?
Apakah hanya sekedar mendapatkan label? Atau memang ada pembeda secara kompetensi teknik?
Apapun itu.. sertifikasi hanya akan menjadi label jika pemiliknya tidak menunjukan tindakan yang sesuai dengan sertifikatnya.

Untungnya warung indomi tidak perlu sertifikasi. Tapi kalaupun nantinya mereka akan bersertifikasi, saya yakin warung indomi Mus di Grogol akan dapat sertifikasi warung indomi terkreatif karena bisa bikin indomi goreng di goreng lagi.
Saya yakin warung indomi Hendra di Starbak akan dapat sertifikasi warung indomi paling proaktif karena kalo saya datang pesan kopi, yang datang kopi plus indomi kuah pake rawit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s